Sabtu siang yang tak biasa melanda Jakarta. Hiruk pikuk Ibukota yang selalu ramai dengan kegiatan manusia mendadak lengang. Sejenak penduduk Ibukota menghela nafas saat mendengar dan membaca berita mengenai Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, yang positif terinfeksi virus Corona atau Covid-19. Belakangan virus ini menjadi pandemi yang melanda 152 negara, tidak hanya Indonesia. Penyakit ini mewabah dengan cepat, terhitung sejak Presiden Joko Widodo menyatakan Indonesia positif terpapar Covid-19 pada 2 Maret 2020, telah ada 117 kasus dengan korban meninggal dunia 5 orang dan sembuh 8 orang. Penyakit ini seakan tidak pandang bulu, mulai dari selebriti papan atas, atlet, hingga petinggi pada sebuah negeri turut terkena imbas.

Novel Corona Virus atau biasa disebut virus corona adalah kumpulan virus yang menginfeksi sistem pernapasan sehingga menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Infeksi virus ini disebut juga sebagai Covid-19 yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Bahkan World Health Organization (WHO) telah menyebutkan secara resmi bahwa virus ini merupakan pandemi pada 12 Maret 2020 yang lalu. Infeksi virus Corona atau COVID-19 dapat menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu, demam dengan suhu melebihi 38 derajat celcius, pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, hingga sesak napas, dan nyeri dada.

Wabah Covid-19 mengingatkan kita pada wabah-wabah penyakit yang pernah menggemparkan dunia. Nyatanya, Covid-19 bukan wabah pertama yang menyebar dan meresahkan masyarakat dunia. Beberapa penyakit seperti pes, malaria, kolera, cacar, dan flu spanyol pernah membuat dunia gempar dari abad ke-18 hingga abad ke-20. Penyakit pes, yang disebabkan oleh tikus, pernah melanda dunia terutama di kawasan Eropa. Ribuan orang tewas akibat penyakit ini. Tak hanya di Eropa, penyakit pes juga melanda wilayah Asia Tenggara pada abad ke-18. Seperti yang dicatat oleh sejarawan Anthony Reid, yang mengatakan bahwa hubungan dagang antara masyarakat Asia Tenggara dengan orang-orang Eropa, Cina, dan India yang dimulai pada abad ke-14 disinyalir membawa dampak terhadap masuknya penyakit-penyakit menular (Anthony Reid, 2011: 68). Di Hindia Belanda, wabah pes ini sempat mendapat perhatian serius dari pemerintah Hindia Belanda dengan membuat “Rumah Bebas Tikus”. (Kees van Dijk, 2013:590)

Seperti halnya Covid-19, penyakit lain yang berasal dari virus yang pernah menggemparkan dunia adalah Flu Spanyol. Lebih dari satu abad yang lalu, tepatnya pada 1918, Flu Spanyol atau Spanish Flu pernah menjangkit warga dunia dan menyebabkan jutaan orang tewas. Di Samoa Barat yang kini bernama Samoa, flu Spanyol masuk pada tanggal 7 November 1918. Dalam waktu dua bulan, penyakit ini bertanggung jawab atas kematian 20% penduduk yang berjumlah 38.302 orang (wol.jw.org:2014). Selain di Samoa Barat, dampak Flu Spanyol merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Influenza A dengan subtipe H1N1. Penyakit ini merupakan wabah flu pertama di dunia yang menyebar dari Afrika Barat hingga Prancis dan Amerika Serikat pada pertengahan1917. Namun demikian, wabah flu Spanyol yang berkembang bersamaan dengan Perang Dunia I membuat dunia tidak hanya memerangi musuh demi mempertahankan wilayah semata, melainkan memerangi virus influenza dan menjaga diri mereka masing-masing agar tidak tertular wabah ini.

Dari namanya, flu Spanyol identik dengan sebuah negara di kawasan Eropa yang terkenal saat masa penjelajahan samudera abad 14 hingga abad 18. Agaknya pemberian nama flu Spanyol berasal dari pendaratan pasukan Amerika Serikat pertama kali di Spanyol pada tahun 1817 saat Perang Dunia I. Pada saat itu terdapat salah seorang juru masak dalam kesatuan militer Amerika Serikat yang tiba-tiba terserang demam, sakit kepala, dan sakit pada tenggorokannya. Ternyata hal tersebut adalah gejala dari flu Spanyol. Satu bulan setelahnya, penduduk Spanyol sebanyak 8 juta orang meninggal. Jelas bahwa mengacu pada fakta tersebut pemberian nama flu Spanyol ini bukan didasari atas asal penyakit, melainkan lokasi menyebarluasnya virus, yaitu di Spanyol. (tulisdunia.blogspot.com:2009)

Wabah flu Spanyol tak hanya melanda Eropa. Ia juga menyebar ke wilayah-wilayah yang menjadi jajahan Eropa di Asia. Di Semenanjung Malaya misalnya, masyarakat menyebut epidemi flu ini sebagai flu Rusia. Sementara di Hindia Belanda, sejarawan Kees van Dick menyebutkan bahwa epidemi tersebut mencapai puncaknya pada November 1918 dan menelan korban jiwa hingga satu juta orang (Kees van Dijk, 2013: 591). Hal ini menimbulkan keresahan tersendiri bagi masyarakat Hindia Belanda, sampai-sampai muncul istilah “musim penyakit” saat itu. Wabah flu Spanyol ini tak hanya menyerang masyarakat pribumi, melainkan seluruh lapisan masyarakat sehingga harian Neratja, salah satu surat kabar perjuangan di Batavia yang diterbitkan oleh Uitgeversmij Evolutie dengan direktur bernama Darmakoesomoe dan redaktur bernama Djojosudiro, menyebut epidemi ini sebagai penyakit “sama rasa sama rata” (Neratja, 28 November 1918)

Di saat wabah flu Spanyol melanda, kelaparan dan kekurangan bahan makanan pun melengkapi derita masyarakat Hindia Belanda saat itu. Angka kematian yang tinggi, terutama bagi laki-laki dengan usia muda, membuat lahan-lahan pertanian menjadi terbengkalai. Hal ini tentu saja berdampak pada perekonomian Hindia Belanda. Para pembesar di Batavia menyebut penyakit flu Spanyol sebagai pelemahan kolonialisasi (Kees van Dijk, 2013:592).

Lantunan protes pun bermunculan dari tanah jajahan, yang dipengaruhi oleh munculnya Revolusi Februari di Rusia. Sneevliet dan Tjipto Mangoenkoesoemo merupakan tokoh sentral yang mengajukan protes keras terhadap pemerintah kolonial dan mempertanyakan kinerja Hygine Commissie yang sudah dibentuk sejak 1911 di Batavia sebagai reaksi atas keresahan yang muncul di tengah masyarakat (Kees van Dijk, 2013 :593). Angka kematian yang tinggi juga membuat kaum pergerakan yang tergabung dalam Sarekat Islam mendapatkan angin segar untuk mengkritik pemerintah yang mereka anggap tak sungguh-sungguh dalam menjalankan politik etis dan menyelewengkan anggaran di bidang kesehatan. Pemerintah Hindia Belanda memang sudah meningkatkan anggaran kesehatan hingga 10 kali lipat pada 1910 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2010: 44). Dengan percaya diri, tokoh-tokoh pergerakan Sarekat Islam melakukan propaganda dan menyebut diri mereka layaknya sebagai SI (Spanish Influenza) yang dapat melemahkan sistem kolonial (Kees van Dijk, 2013: 591-592).

Penyakit flu Spanyol akhirnya dapat ditangani dengan baik setelah pemerintah Belanda melibatkan dokter-dokter Jawa dan dokter-dokter Belanda seperti Dr. Hoogenstreten (dokter spesialis mata, namun belakangan membuka praktek umum), Dr. Paperlard, dan Dr. Kloos. Selain itu, pemerintah mulai serius memperbaiki permukiman penduduk dan lebih memperhatikan sanitasi. Tercatat, peristiwa wabah penyakit flu Spanyol ini berakhir pada 1920. Di seluruh dunia, flu Spanyol bertanggung jawab atas kematian penduduk dengan jumlah hampir 50 juta orang.  

Pada dasarnya, penyakit tidak mengenal asal-usul, ras, agama, dan kedudukan seseorang. Siapapun dalam kondisi apapun dapat tertular oleh penyakit. Hal tersebut seharusnya membuat manusia menyadari pentingnya kesehatan dan upaya dalam menanggulangi penyakit. Perkembangan teknologi yang semakin maju seharusnya memberikan dampak dalam mempercepat penanggulangan penyakit. Pemerintah pun sudah berupaya untuk berkaca pada sejarah dengan melakukan berbagai tindakan preventif. Namun upaya pencegahan memang memerlukan kesadaran diri pribadi terlebih dahulu. Pada akhirnya, Covid-19 atau penyakit lainnya mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga kebersihan diri sendiri, menjaga kebersihan lingkungan, dan memperhatikan keadaan sekitar dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia yang sering kali kita lalai dalam melakukannya.

Penulis      :    Usman Manor

Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia dan Magister Manajemen Universitas Indonesia.

Analis Sejarah, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Koordinator Sembari Dinas Abdi Muda Indonesia.

 

admin

Author admin

More posts by admin

Leave a Reply