Pemerintah Indonesia melalui Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2020 mengumumkan kasus pertama Novel Coronavirus atau Covid-19 di Indonesia. Sejak saat itu, satu persatu korban berjatuhan yang membuat tenaga kesehatan menjadi sibuk bukan kepalang. Tenaga kesehatan kemudian menjadi garda terdepan dalam upaya menghimbau, mencegah, dan mengobati para pasien dengan taruhan kesehatan hingga nyawa mereka sendiri. Keadaan semakin memilukan kala bangsa dan negara harus kehilangan putra-putra terbaiknya yang gugur dalam memerangi Covid-19, yaitu Dokter Hadio Ali Khazatsin, Dokter Djoko Judodjoko, dan Dokter Adimirsa Putra. Sampai dengan Kamis, 26 Maret 2020, terdapat 50 tenaga kesehatan di Jakarta yang positif terpapar virus Covid-19 sebagaimana disampaikan oleh Gubernur Anies Baswedan. Melalui tulisan ini, penulis berupaya menjelaskan mengenai peranan Dokter Cipto Mangunkusumo dengan perspektif sejarah sebagai agen terdepan dalam memerangi wabah Pes di Jawa Timur yang membuatnya dikenal sebagai pahlawan sekaligus inspirasi bagi generasi muda, khususnya tenaga kesehatan. Selain itu, tulisan ini juga merupakan wujud apresiasi atas dedikasi terhadap seluruh tenaga kesehatan yang senantiasa mengabdi pada masyarakat, bangsa, dan negara.

Sejarah panjang Bangsa dan Negara Indonesia diwarnai dengan banyak catatan terkait dengan pengorbanan fisik maupun materil. Catatan tersebut menorehkan banyak peristiwa yang melahirkan tokoh-tokoh agen perubahan dengan semangat patriotisme dan jiwa nasionalisme demi mengabdi untuk negeri. Salah satu tokoh sentral perubahan dalam tatanan masyarakat kolonial pada awal abad ke-20 yang juga dipandang sebagai juru penyelamat oleh masyarakat Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda adalah Tjipto Mangoenkoesoemo (Dokter Cipto Mangunkusumo). Selama hidupnya, Dokter Cipto tidak pernah merasakan kebebasan dari belenggu penjajah. Tepat satu tahun setelah Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang di Kalijati pada tanggal 8 Maret 1943, Dokter Cipto menghembuskan nafas yang terakhir (Balfas, 1952).

Dokter Cipto merupakan anak pertama yang dilahirkan dari rahim seorang perempuan keturunan raja dari Mayong, Jepara bernama Raden Ayoe Soeratmi (Reksodihardjo, 1992). Ayahnya merupakan seorang guru di Ambarawa yang kemudian menjadi Kepala Sekolah di Semarang bernama Mangoenkoesoemo. Karir Mangoenkoesoemo semakin bersinar saat dipercaya oleh Pemerintah Kotapraja (Gementee) Semarang untuk menjadi pegawai keuangan dan administrasi di Dewan Kota Semarang. Faktor garis keturunan Ibu yang berasal dari raja dengan ditandai penggunaan sebutan Raden dan profesi dari Mangoenkoesoemo sebagai birokrat atau lazim disebut priyayi ini yang kemudian menjadi penentu latar belakang pendidikan Cipto dari kecil hingga dewasa (Reksodihardjo, 1992). Cipto lahir di saat Hindia Belanda tengah mengalami masa duka pasca meletusnya Gunung Krakatau tanggal 27 Agustus tahun 1883 yang menyebabkan ribuan nyawa melayang dan rasa trauma yang mendalam (Winchester, 2003). Agaknya Cipto terlahir sebagai pengobat rasa duka dan pilu rakyat Hindia Belanda saat itu.

Cipto yang sejak mengenyam bangku sekolah dijuluki sebagai Murid yang Pandai atau Een Begaafd Leerling berhasil menamatkan studi kedokteran pada tanggal 28 Oktober 1905 dan berhak menyandang gelar Dokter Jawa dari School Tot Opleiding voor Indishe Artsen (STOVIA). Sebagai salah satu lulusan STOVIA, Dokter Cipto memiliki tanggung jawab untuk mengabdi pada sebagai tenaga kesehatan. Pada tahun pertama pasca kelulusan, Dokter Cipto ditempatkan di Banjarmasin dan kemudian dipindahkan ke Demak setahun berselang. Saat itu, Dokter Cipto tidak hanya berusaha memerangi penyakit yang menjangkiti masyarakat, tetapi juga memerangi kolonialisme yang sudah mandarah daging di Hindia Belanda sehingga selain membuka praktek, Dokter Cipto juga aktif dalam organisasi kepemudaan, salah satunya adalah Boedi Oetomo (Budi Utomo).

Pasca mengundurkan diri dari Boedi Oetomo, Dokter Cipto kembali membuka praktek Dokter di Solo. Di Solo, Dokter Cipto langsung dikenal sebagai “Dokter rakyat” karena kemauannya untuk masuk ke kampung-kampung naik sepeda untuk mengobati rakyat kecil dan tidak meminta bayaran. Walaupun demikian, masih banyak masyarakat di Solo yang lebih mengenalnya sebagai Wong pinter dibanding Dokter Rakyat karena dulu istilah dokter masih asing didengar. Dokter Cipto kerap disangka dukun walau ia mengenakan alat-alat kedokteran saat mengobati pasiennya

Pada masa itu, tepatnya pada tahun 1911 wabah Pes sedang melanda di tanah Jawa, terutama di Malang. Dokter Cipto kemudian mengajukan diri kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk turut serta dalam upaya pemberantasan penyakit Pes tersebut. Pes atau sampar merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis dengan gejala seperti flu dan disebarkan oleh kutu yang hidup pada hewan pengerat seperti tikus serta dapat menyebabkan kematian. Sisi kemanusiaan yang memicu Dokter Cipto untuk menyelamatkan nyawa masyarakat pribumi. Tak jarang dokter Cipto keluar masuk kampung dengan alat pelindung diri seadanya dalam rangka mengobati rakyat dan memberikan himbauan untuk membersihkan diri serta melindungi keluarga. Sisi kemanusiaan Dokter Cipto terpanggil kala menyaksikan seorang anak yang menjadi yatim piatu akibat kedua orang tuanya meninggal setelah terjangkit penyakit Pes. Anak tersebut kemudian ia angkat menjadi anaknya dan diberikan nama Pestiati.

Berkat keberanian dan kegigihan Dokter Cipto dalam memberantas wabah Pes di Malang, Dokter Cipto dianugerahi Ridder in de Orde van Oranje Nassau dari Ratu Wilhelmina pada tahun 1912. Akan tetapi, tidak sampai satu tahun bintang jasa itu ada digenggamannya. Disebabkan oleh rasa kecewa karena tidak diizinkan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menangani wabah Pes yang terjadi di Solo pada waktu itu, Dokter Cipto mengembalikan bintang jasa tersebut (Balfas, 1952). Dokter Cipto kemudian aktif kembali dalam organisasi politik yang sangat lantang menyuarakan keadilan, yaitu Indishe Partij. Tak jarang pula Dokte Cipto menyuarakan opininya terhadap pemerintah. Salah satu tulisan Dokter Cipto di Koran De Expres yang berjudul “Kracht en Vrees” (Kekuatan dan Ketakutan) yang mendeskripsikan kekuatannya dalam melawan kolonialisme dan ketakutannya terhadap masa depan rakyat yang semakin terbelenggu oleh penjajah hingga sama sekali tidak memperhatikan masalah kesehatan. Dalam tulisan itu, Dokter Cipto juga mengatakan, jika aksinya semakin dibungkam, akan semakin keras perlawanannya.

Selayaknya manusia biasa, Dokter Cipto pun memiliki keterbatasan kekuatan. Di kala harus berjuang mengobati rakyat, Dokter multitalenta ini harus menghadapi keganasan penyakit asma dalam dirinya sendiri. Dalam keadaan sakit pun ia tetap mengingat pesan dari sahabat sekaligus rekan perjuangannya, yaitu Ki Hajar Dewantara untuk memanusiakan manusia. Malang tak dapat ditolak, Dokter Cipto yang sangat lantang menyuarakan keadilan, sangat gigih mengupayakan kesehatan rakyat, dan sangat dermawan dalam memberikan pertolongan harus menghembuskan nafas yang terakhir sebelum negara ini sempat mengucapkan terima kasih atas jasa dan dedikasinya. Namun demikian, semangat untuk tetap mengabdi terutama dalam memastikan kesehatan masyarakat meningkat tetap hidup dalam hati dan jiwa tenaga kesehatan yang saat ini sedang berjuang melawan Covid-19. Jika Dokter Cipto dahulu berperang melawan kolonialisme dan penyakit Pes, saat ini para tenaga kesehatan sedang berperang melawan Covid-19. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas dedikasi segenap tenaga kesehatan penerus Dokter Cipto yang selalu berdiri di garis terdepan dalam menyehatkan masyarakat Indonesia.

Penulis      :    Usman Manor

Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia dan Magister Manajemen Universitas Indonesia.

Analis Sejarah, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Koordinator Sembari Dinas Abdi Muda Indonesia

 

 

admin

Author admin

More posts by admin

Leave a Reply